BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Berbicara tentang
Anak saat ini seperti tidak ada habis-habisnya, mala saya rasa semakin menarik
karena di balik itu semua terdapat fakta-fakta menarik tentang permasalahan
anak.
Secara umum
dikatakan anak adalah seorang yang dilahirkan dari perkawinan anatar seorang
perempuan dengan seorang laki-laki dengan tidak menyangkut bahwa seseorang yang
dilahirkan oleh wanita meskipun tidak pernah melakukan pernikahan tetap
dikatakan anak
Anak juga
merupakan cikal bakal lahirnya suatu generasi baru yang merupakan penerus
cita-cita perjuangan bangsa dan sumber daya manusia bagi pembangunan
Nasional.Anak adalah asset bangsa.Masa depan bangsa dan Negara dimasa yang akan
datang berada ditangan anak sekarang.Semakin baik keperibadian anak sekarang
maka semakin baik pula kehidupan masa depan bangsa.Begitu pula sebaliknya,
Apabila keperibadian anak tersebut buruk maka akan bobrok pula kehidupan bangsa
yang akan datang.
Pada umumnya orang
berpendapat bahwa masa kanak-kanak merupakan masa yang panjang dalam rentang
kehidupan.Bagi kehidupan anak, masa kanak-kanak seringkali dianggap tidak ada
akhirnya, sehingga mereka tidak sabar menunggu saat yang didambakan yaitu
pengakuan dari masyarakat bahwa mreka bukan lagi anak-ank tapi orang dewasa
Menurut Hurlock
(1980), manusia berkembang melalui beberapa tahapan yang berlangsung secara
berurutan, terus menerus dan dalam tempo perkembangan y6ang tertentu, terus
menerus dan dalam tempo perkembangan yang tertentu dan bias berlaku umum. Untuk
lebih jelasnya tahapan perkembangan tersebut dapat dilihat pada uraian
tersebut:
- Masa pra-lahir : Dimulahi sejak terjadinya
konsepsi lahir
- Masa jabang bayi : satu hari – dua
minggu.
- Masa Bayi : dua minggu – satu
tahun.
- Masa anak : masa anak-anak awal : 1
tahun – 6 bulan,
- Masa Anak-anak : 6 tahun – 12/13
tahun.
- Masa remaja : 12/13 tahun – 21
tahun
- Masa dewasa : 21 tahun – 40 tahun.
- Masa tengah baya : 40 tahun – 60
tahun.
- Masa tua : 60 tahun – meninggal.
Dalam tahapan
tumbuh kembangnya, anak perlu variasi nutrisi dengan porsi tertentu sesuai
pedoman gizi. Akan tetapi selain nutirisi dalam menu makannya yang perlu jadi
perhatian, pola makan anak juga harus dibentuk sedini mungkin.
Apa yang diasup
balita sangat bergantung dengan apa yang disiapkan dan disajikan orangtuanya.
Jika si kecil tidak pernah diperkenalkan dengan ikan dan sayuran, bukan tidak
mungkin anak juga sulit menyukai makanan sehat saat dewasa nanti.
"Orangtua
punya peran penting untuk memberi contoh makanan bergizi cukup dan seimbang
karena kebiasaan keluarga akan memengaruhi pola makan anak," kata
dr.Fiastuti Witjaksono, Sp.GK, ahli gizi dari Semanggi Klinik Jakarta.
Pada beberapa
anak, memberikan asupan gizi atau makan merupakan kegiatan yang menjadi
tantangan tersendiri. Anak sering kali menolak makan, makan terlambat atau
menghabiskan makanannya dalam waktu sangat lama, sehingga orangtua kerepotan.
Pada awalnya mungkin hal ini ditolerir, tapi jika sudah berkepanjangan, Anda
pun harus waspada. Karena capek, Anda bisa jadi menjadi tidak lagi peduli
dengan pola makan sehat sang anak.
Awal kebiasaan
makan harus dipahami sebagai pola yang sebenarnya dipelajari oleh anak. Suka
tidak suka, Anda akui atau tidak, Anda pun memberikan kontribusi jika anak
menunjukkan pola yang tidak sesuai. Tapi, jangan khawatir! Tidak pernah ada
kata terlambat untuk membangun kebiasaan yang baik, asal Anda tahu caranya dan
mau melakukan usaha.
B. Rumusan
Masalah
Adapun rumusan
masalah dari latar belakang di atas antara lain :
1. Apa
pengertian dari pola makan ?
2. Bagaimana
pola makan yang baik pada anak ?
3. Bagaimana
pengaturan nutrisi anak ditinjau dari segi umur ?
4. Apa
faktor – faktor yang mempengaruhi pola makan pada anak ?
5. Bagaimana
cara mengatasi pola makan anak yang kurang baik ?
C. Tujuan
Penulisan
Dari rumusan
masalah di atas maka penyusun membuat tujuan penulisan sebagai berikut :
1. Untuk
mengetahui pengertian dari pola makan
2. Untuk
memberikan informasi tentang pola makan yang baik pada anak
3. Untuk
memberikan informasi tentang pengaturan nutrisi anak ditinjau dari segi umur
4. Untuk
mengetahui faktor – faktor yang mempengaruhi pola makan anak
5. Untuk
mengetahui cara mengatasi pola makan anak yang kurang baik
D. Manfaat
Penulisan
Manfaat
penulisan dari makalah ini antara lain :
1. Sebagai
salah satu tugas dalam mata kuliah keperawatan anak
2. Sebagai
bahan bacaan bagi para pembaca tentang keperawatan anak
3.
Sebagai acuan bagi para pembaca
khususnya dalam bidang keperawatan anak
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Pola Makan
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, pola diartikan sebagai suatu
sistem, cara kerja atau usaha untuk melakukan sesuatu (Depdiknas, 2001). Dengan
demikian, pola makan yang sehat dapat diartikan sebagai suatu cara atau usaha
untuk melakukan kegiatan makan secara sehat. Sedangkan yang dimaksud pola makan
sehat dalam penelitian ini adalah suatu cara atau usaha dalam pengaturan jumlah
dan jenis makanan dengan maksud tertentu seperti mempertahankan kesehatan,
status nutrisi, mencegah atau membantu kesembuhan penyakit. Pola makan
sehari-hari merupakan pola makan seseorang yang berhubungan dengan kebiasaan
makan setiap harinya.
Pengertian pola makan seperti dijelaskan di atas pada dasarnya
mendekati definisi / pengertian diet dalam ilmu gizi/nutrisi. Diet diartikan
sebagai pengaturan jumlah dan jenis makanan yang dimakan agar seseorang tetap
sehat. Untuk mencapai tujuan diet / pola makan sehat tersebut tidak terlepas
dari masukan gizi yang merupakan proses organisme menggunakan makanan yang
dikonsumsi melalui proses digesti, absorbsi, transportasi, penyimpanan,
metabolisme dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan
kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal organ-organ, serta menghasilkan
energi.
B. Pola
Makan Anak Yang Baik
Nutrisi
sangat berguna untuk menjaga kesehatan dan mencegah penyakit. Selain karena
faktor kekurangan nutrisi, akhir-akhir ini juga muncul penyakit akibat salah
pola makan seperti kelebihan makan atau makan makanan yang kurang seimbang.
Bahkan, kematian akibat penyakit yang timbul karena pola makan yang salah /
tidak sehat belakanan ini cenderung meningkat. Penyakit akibat pola makan yang
kurang sehat tersebut diantaranya diabetes melitus, hiperkolesterolemia,
penyakit kanker, penyakit arteri koroner, sirrhosis, osteoporosis, dan beberapa
penyakit kardiovaskuler.
Untuk
menghindari penyakit-penyakit akibat pola makan yang kurang sehat, diperlukan
suatu pedoman bagi individu, keluarga, atau masyarakat tentang pola makan yang
sehat. Seperti dijelaskan sebelumnya, bahwa pola makan itu dibentuk sejak masa
kanak-kanak yang akan terbawa hingga dewasa. Oleh karena itu, untuk membentuk
pola makan yang baik sebaiknya dilakukan sejak masa kanak-kanak. Namun sebagai
orang tua harus mengetahui bagaimana kebiasaan dan karakteristik anaknya.
Agar
pola makan anak dapat terbentuk dengan baik, berikut ini disampaikan tips membentuk
dan menjaga pola makan yang sehat, (dikutip dari tabloid Ibu dan Anak) :
1.
Jangan
memberikan makanan lain sebelum anak makan makanan utama (pagi, siang,
sore/malam)
2.
Jangan mulai membiasakan anak
mengkonsumsi makanan pembuka atau selingan yang tinggi kalori (manis)
3. Mengusahakan anak mengkonsumsi makanan 4
sehat 5 sempurna tiap hari
4. Membiasakan menu bervariasi, sehingga anak
terbiasa dengan bermacam cita rasa
5.
Membiasakan anak makan pada tempat yang
semestinya (ruang makan atau duduk di kursi makan)
6. Jangan membiasakan anak makan sambil
digendong, berjalan-jalan di depan rumah, dan sebagainya
7. Memberi contoh positif dengan menghentikan
kebiasaan jajan orang tua
8. Membiasakan anak makan pagi agar dapat
menghindarkan kebiasaan jajan
9. Jangan mulai menuruti semua permintaan anak
terhadap makanan kecil
10. Kalau tidak terpaksa, jangan membiasakan anak
makan makanan siap saji karena gizi makanan ini kurang seimbang (terlalu banyak
lemak dan kalori)
11. Mengembangkan sikap tegas, terbuka, dan logis
ketika menolak permintaan anak dengan mencoba memberikan alternatif
12. Membiasakan menanyakan pendapat anak seperti
menanyakan mau makan apa hari ini. Ini merupakan awal proses pendidikan agar
anak dapat memilih dan bertanggung jawab atas pilihannya
13. Menyediakan wadah makan yang menarik sesuai
ketertarikan anak, misalnya dunia binatang, boneka, bunga, robot, pesawat
terbang dan lain-lain
14. Mengusahakan agar siapa saja yang menemani anak
makan mempunyai koleksi cerita-cerita menarik yang bisa memikat anak
Pedoman
pola makan sehat untuk masyarakat secara umum yang sering digunakan adalah
pedoman Empat Sehat Lima Sempurna, Makanan Triguna, dan pedoman yang paling
akhir diperkenalkan adalah 13 Pesan dasar Gizi Seimbang. Pengertian makanan
triguna adalah bahwa makanan atau diet sehari-hari harus mengandung: 1.
karbohidrat dan lemak sebagai zat tenaga. 2. protein sebagai zat pembangun. 3.
vitamin dan mineral sebagai zat pengatur.
Pedoman
13 Pesan Dasar Gizi Seimbang menyampaikan pesan-pesan untuk mencegah masalah
gizi ganda dan mencapai gizi seimbang guna menghasilkan kualitas sumber daya
manusia yang handal. Garis besar pesan-pesan tersebut seperti dijelaskan oleh
Dirjen Binkesmas Depkes RI (1997) antara lain:
1)
Makanlah makanan yang beraneka ragam. Makanan yang beraneka ragam harus
mengandung karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral, dan bahkan serat
makanan dalam jumlah dan proporsi yang seimbang menurut kebutuhan masing-masing
kelompok (bayi, balita, anak, remaja, ibu hamil dan menyusui, orang dewasa dan
lansia).
2)
Makanlah makanan untuk memenuhi
kebutuhan energi. Energi dan tenaga dapat diperoleh dari makanan sumber
karbohidrat, lemak serta protein. Energi dibutuhkan untuk metabolisme dasar
(seperti untuk menghasilkan panas tubuh serta kerja organ-organ tubuh) dan
untuk aktivitas sehari-hari seperti belajar, bekerja serta berolah raga.
Kelebihan energi akan menghasilkan obesitas, sementara kekurangan energi dapat
menyebabkan kekurangan gizi seperti marasmus.
3)
Makanlah makanan sumber karbohidrat
setengah dari kebutuhan energi. Karbohidrat sederhana, seperti gula dan makanan
manis sebaiknya dikonsumsi dengan memperhatikan azas tepat waktu, tepat
indikasi dan tepat jumlah. Makanan ini sebaiknya dimakan pada siang hari ketika
kita akan atau sedang melakukan aktivitas dan jumlahnya tidak melebihi 3-4
sendok makan gula/hari. Karbohidrat kompleks sebaiknya dikonsumsi bersama
makanan yang merupakan sumber unsur gizi lain seperti protein, lemak/minyak,
vitamin dan mineral. Seyogyanya 50-60% dari kebutuhan energi diperoleh dari
karbohidrat kompleks.
4)
Batasi konsumsi lemak dan minyak sampai
seperempat dari kecukupan energi. Konsumsi lemak dan minyak berlebihan,
khususnya lemak/minyak jenuh dari hewan, dapat beresiko kegemukan atau
dislipidemia pada orang-orang yang mempunyai kecenderungan ke arah tersebut.
Dislipidemia atau kenaikan kadar lemak (kolesterol atau trigliserida) dalam
darah merupakan faktor untuk terjadinya penyakit jantung koroner dan stroke.
Konsumsi lemak/minyak dianjurkan tidak melebihi 20% dari total kaori dan perlu
diingat bahwa unsur gizi ini juga memiliki peran tersendiri sebagai sumber asam
lemak esensial serta juga membantu penyerapan beberapa vitamin yang larut dalam
lemak.
5)
Gunakan garam beryodium. Penggunaan
garam beryodium dapat mencegah Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY). Namun,
penggunaan garam yang berlebihan juga tidak dianjurkan karena garam mengandung
natrium yang bisa meningkatkan tekanan darah. Sebaiknya konsumsi garam tidak
melebihi 6 gram atau 1 sendok teh per hari.
6)
Makanlah makanan sumber zat besi.
Makanan seperti sayuran hijau, kacang-kacangan, hati, telur dan daging banyak
mengandung zat besi dan perlu dikonsumsi dalam jumlah yang cukup untuk mencegah
anemia gizi.
7)
Berikan ASI saja pada bayi sampai
berumur 4 bulan. Untuk dapat memberikan ASI dengan baik, ibu menyusui harus
meningkatkan jumlah dan mutu gizi makanannya selama hamil dan menyusui. Makanan
Pendamping ASI (PASI) hanya boleh diberikan setelah usia bayi lebih dari 4
bulan dan pemberiannya harus bertahapmenurut umur, pertumbuhan badan serta
perkembangan kecerdasan.
8)
Biasakan makan pagi. Makan pagi dengan
makanan yang beraneka ragam akan memenuhi kebutuhan gizi untuk mempertahankan
kesegaran tubuh dan meningkatkan produktifitas dalam bekerja. Pada anak-anak,
makan pagi akan memudahkan konsentrasi belajar sehingga prestasi belajar bisa
lebih ditingkatkan.
9)
Minumlah air bersih, aman dan cukup
jumlahnya. Air minum harus bersih dan bebas kuman. Minumlah air bersih sampai 2
liter per hari sehingga metabolisme tubuh kita bisa berjalan lancar mengingat
air sangat dibutuhkan sebagai pelarut unsur gizi bagi keperluan metabolisme
tersebut. konsumsi air yang cukup dapat menghindari dehidrasi dan akan
menurunkan resiko infeksi serta batu ginjal.
10) Lakukan kegiatan fisik atau olah raga yang
teratur. Kegiatan itu akan membantu mempertahankan berat badan normal disamping
meningkatkan kesegaran tubuh, memperlancar aliran darah dan mencegah
osteoporosis khususnya pada lansia.
11) Hindari minum minuman beralkohol. Alkohol
bersama-sama rokok dan obat-obatan terlarang lainnya harus dihindari karena
dapat membawa risiko untuk terjadinya berbagai penyakit degeneratif, vaskuler
dan kanker.
12) Makanlah makanan yang aman bagi kesehatan.
Makanan yang tidak tercemar, tidak mengandung kuman atau parasit lain, tidak
mengandung bahan kimia berbahaya dan makanan yang diolah dengan baik sehingga
unsur gizi serta cita rasanya tidak rusak, merupakan makanan yang aman bagi
kesehatan.
13) Bacalah label pada makanan yang dikemas. Label
pada makanan kemasan harus berisikan tanggal kadaluwarsa, kandungan gizi dan
bahan aktif yang digunakan. Konsumen yang berhati-hati dan memperhatikan label
tersebut akan terhindar dari makanan rusak, tidak bergizi dan makanan
berbahaya. Selain itu, konsumen dapat menilai halal tidaknya makanan tersebut
(Dirjen Binkesmas Depkes RI, 1997).
C. Pengaturan
Nutrisi Anak (Ditinjau Dari Segi Umur)
Berikut ini adalah beberapa
pengaturan makanan untuk bayi dan anak sehat :
- Untuk bayi, makanan utama adalah ASI ditambah makanan pelengkap.
Pada usia 0 – 4
bulan, ASI harus langsung diberikan sesaat setelah melahirkan hindari pemberian
makanan tambahan seperti madu, glukosa dan makanan pralakteal lainnya. Pada
usia di atas 4 bulan boleh diberikan makanan luamat berupa bubur susu 1 kali
dan buah 1 kali.
Untuk bayi usia 5 – 6 bulan diberikan
2 kali bubur susu, buah – buahan dan telur.
Untuk bayi usia 6 – 7 bulan dapat
dimulai dengan pemberian nasi tim dengan campuran antara beras, sayuran dan
daging atau ikan.
Bayi umur 8 – 12 bulan diberikan nasi
tim dengan frekuensi 3 kali sehari, dan bubur susu tidak diberikan lagi.
-
Makanan
padat. Makanan padat mulai diberikan pada usia di atas 4 bulan, saat bayi mulai
belajar duduk, kuat menahan leher dan kepalanya, serta dapat menyatakan
keinginannya.
Beberapa hal yang
harus diperhatikan dalam pemberian makanan padat :
·
Bayi telah siap menerima makanan dalam bentuk
padat
·
Berikan makanan padat sesuai dengan kemampuan
anak mengunyah.
·
Observasi tanda alergi makanan (misalnya : kulit
merahflatus terus, perubahan konsistensi feses).
·
Kenalkan jenis makanan untuk satu waktu.
·
Bila bayi berasal dari keluarga vegetarian atau
hanya memakan sayuran saja, maka tambahkan zat besi (Fe).
·
Apabila jumlah makanan yang dikonsumsi lebih
banyak, asupan susu harus dikurangi.
·
Biarkan bayi mencoba mengenal cara makan
(misalnya memainkan sendoknya)
·
Jangan terburu – buru dalam memberikan makanan,
terutama makanan padat.
·
Berikan makanan secara bertahap (misalnya 1 atau
2 sendok di hari pertama kemudian meningkat menjadi 3 – 4 sendok pada hari
berikutnya dan seterusnya).
·
Berikan makanan pada saat anak lapar.
2. Kebutuhan
nutrisi pada
anak usia toddler
Anak usia toddler
mempunyai karakteristik yang khas, yaitu bergerak terus, tidak bisa diam dan
sulit untuk diajak duduk dalam waktu yang relatif lama. Selain itu, pada usia
12 sampai 18 bulan pertumbuhan sedikit lambat sehingga kebutuhan nutrisi dan
kalori. Kebutuhan kalori kurang lebih 100 kkal per kg berat badan (BB).
Karakteristik
terkait dengan pemenuhan kebutuhan nutrisi pada anak usia toddler :
a. Anak sukar atau kurang mau makan.
b. Nafsu makan
anak sering kali berubah yang mungkin pada hari ini makannya cukup banyak dan
pada hari berikutnya makannya sedikit.
c. Biasanya anak menyukai jenis
makanan tertentu.
d. Anak cepat bosan dan tidak tahan
makan sambil duduk dalam waktu lama.
Anjurkan
untuk orang tua dalam kaitannya dengan karakteristik tersebut :
a. Ciptakan lingkungan makan yang menyenangkan,
misalnya memberi makan sambil mengajaknya bermain.
b. Beri kesempatan anak untuk belajar makan
mandiri. Jangan berharap anak dapat makan dengan rapi sebagaimana anak yang
lebih besar karena usia toddler belum mampu melakukannya.
c. Jangan menuruti kecenderungan anak untuk hanya
menyukai satu jenis makanan tertentu. Kenalkan selalu dengan jenis makanan
baru.
d. Berikan makanan pada saat masih hangat dengan
porsi yang tidak terlalu lancer.
e. Kurangi frekuensi minum susu. Dianjurkan untuk
memberikan 2 kali sehari saja.
3. Kebutuhan nutrisi pada
anak usia pra sekolah
Anak usia Pra
Sekolah mengalami pertumbuhan sedikit lambat. Kebutuhan kalorinya adalah 85
kkal/kgBB. Beberapa karakteristik yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan
nutrisi yang perlu diperhatikan pada anak Prasekolah adalah sebagai berikut :
a. Nafsu makan berkurang.
b. Anak lebih tertarik pada aktivitas bermain
dengan teman atau lingkungannya dari pada makan.
c. Anak mulai senang mencoba jenis makanan baru.
d. Waktu makan merupsksn kesempatan yang baik
bagi anak untuk belajar dan bersosialisasi dengan keluarga.
Anjuran untuk
orang tua dalam kaitannya dengan karakteristik tersebut :
a. Pertahankan kebiasaan makan yang baik dengan
cara mengajarkan anak mengenal nutrisi, misalnya dengan menggambar atau
melakukan aktivitas bermain yang lain.
b. Apabila makanan yang dikonsumsi cenderung
sedikit, berikan dengan frekuensi lebih sering, yaitu 4 sampai 5 kali sehari.
Apabila memberikan makanan padat, seperti nasi 3 kali sehari, berikan
makanan ringan di antara waktu makan tersebut. Susu cukup diberikan 1 – 2 kali
sehari.
c. Izinkan anak untuk membentu orang tua
menyiapkan makanan dan jangan terlalu banyak berharap anak dapat melakukannya
dengan tertib dan rapi.
d. Fasilitasi anak untuk mencoba jenis makanan
baru. Makanan baru tidak harus yang berharga mahal, yang penting memenuhi gizi
seimbang.
e. Fasilitasi anak untuk dapat mengekspresikan
ide, pikiran, serta peraasaannya saat makan bersama dan fasilitasi anak untuk
berinteraksi secara efektif dengan Anda atau anggota keluarga lainnya.
4. Kebutuhan nutrisi pada
anak usia sekolah
Anak usia sekolah
mempunyai lingkungan social yang lebih luas selain keluarganya, yaitu
lingkungan sekolah tempat anak belajar mengembangkan kemampuan kognitif,
interaksi social, nilai moral dan budaya dari lingkungan kelompok teman sekolah
dan guru. Bahkan bermain dengan teman sekolah dirasakan anak sebagai sesuatu
yang lebih menyenangkan dari pada bermain di
lingkungan rumah. Pertumbuhan anak tidak banyak mengalami perubahan yang
berarti, sehingga kebutuhan kalori anak usia sekolah adalah 85 kkal/kgBB.
Beberapa
karakteristik yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan nutrisi yang perlu
diperhatikan pada anak usia sekolah adalah sebagai berikut :
a. Anak dapat mengatur pola makannya sendiri.
b. Adanya pengaruh teman atau jajanan di
lingkungan sekolah dan di lingkungan luar rumah serta adanya reklame atau iklan
makanan tertentu di televisi yang dapat mempengaruhi pola makan atau keinginannya
untuk mencoba makanan yang belum dikenalnya.
c. Kebiasaan menyukai satu makanan tertentu
berangsur – angsur hilang.
d. Pengaruh aktivitas beramain dapat menyeababkan
keinginan yang lebih besar pada aktivitas bermain dari
pada makan.
Anjuran
untuk orang tua dalam kaitannya dengan karakteristik tersebut :
a. Motivasi orang tua untuk membiasakan anak
dengan pola makan yang baik.
b. Motivasi anak untuk tetap menyukai jenis
makanan yang baru.
c. Jelasakan pada anak bahwa waktu makan bersama
keluarga adalah lebih baik dari pada bermain
karena saat itu dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk berkonsultasi dengan
orang tua dan bagi orang tua untuk mengetahui pengalaman yang diperoleh anak di
sekolah dan di lingkungannya.
d. Fasilitasi orang tua untuk tidak membiasakan
anak mendapat jajanan di sekolah ataupun di lingkungan luar rumah karena belum
tentu sehat dan hal itu bukan pola kebiasaan yang baik bagi anak. Anjurkan
untuk selalu menyediakan makanan kecil untuk dibawa ke sekolah maupun
disediakan di rumah.
5. Kebutuhan nutrisi pada
anak usia remaja
Usia remaja adalah
fase anak tumbuh dan berkembang sangat cepat. Anak perempuan usia 11 tahun
sudah memasuki prapubertas dan anak laki – laki pada usia 12 tahun. Untuk
memenuh kebutuhan perkembangan yang sangat cepat tersebut, anak membutuhkan
nutrisi esensial, yaitu lebih banyak protein, karbohidrat, vitamin, danm
mineral. Apabila pemenuhan kebutuhan nutrisi anak kurang, hal itu akan
mempengaruhi pertumbuhan dan kematangan seks anak.
Kebutuhan kalori
anak dipengaruhi oleh waktu pencapaian anak untuk masuk fase prapubertas. Jadi,
anak perempuan lebih dini memerlukan peningkatan kalori dibandingkan dengan
anak laki – laki, sedangkan untuk aktivitas fisik, anak laki – laki memerlukan
60 kkal per kg BB dan anak perempuan 50 kkal per kg BB.
Beberapa
karakteristik yang terkait dengan pemenuhan kebutuhan nutrisi yang perlu
diperhatikan pada anak usia remaja adalah sebagai berikut :
a. Besarnya pengaruh kelompok atau geng akan
mempengaruhi pola kebiasaan makan anak.
b. Anak sering kali tidak sempat makan di rumah
karena banyak aktivitas di luar rumah baik di sekolah, kelompok, klub olahraga,
maupun kegiatan kelompok lainnya.
c. Kareana perubahan aktivitas yang lebih banyak
memakan waktu di luar ruamah, biasanya anak lebih menyukai makanan ringan.
d. Anak memasuki fase pubertas sehingga mereka
mulai memperhatian bentuk badannya. Pada beberapa anak perempuan, hal ini akan
mempengaruhi pola makannya yang diatur dan dibatasi karena takut kegemukan.
Sebaliknya, stress yang dialami dapat juga menyebabkan anak mencari pelarian
pada makanan, sehingga mengkonsumsi makanan secara berlebihan apabila anak
tidak mempunyai kemampuan koping yang positif.
Anjuran
untuk remaja dalam kaitannya dengan karakteristik tersebut adalah :
a. Motivasi anak remaja untuk tetap mempunyai
pola makan yang teratur.
b. Fasilitasi orang tua untuk cermat mengamati
pemenuhan kebutuhan nutrisi anak remaja terutama apabila anak terlalu banyak
beraktivitas di luar rumah untuk mengikuti berbagai kegiatan ekstrakurikuler
atau aktivitas sosial.
c. Apabila anak menyukai makanan ringan, anjurkan
orang tua untuk dapat memilihkan jenis makanan ringan yang bergizi.
d. Kalau diperlukan, anjurkan orang tua
berkonsultasi kepada ahli yang berkaitan dengan masalah nutrisi anak remaja.
D. Faktor
– Faktor Yang Mempengaruhi Pola Makan Anak
Beberapa
faktor yang dapat mempengaruhi pola makan seseorang, antara lain faktor budaya,
agama/kepercayaan, status sosial ekonomi, personal preference, rasa lapar,
nafsu makan, rasa kenyang, dan kesehatan.
- Budaya
Budaya cukup
menentukan jenis makanan yang sering dikonsumsi. Demikian pula letak geografis
mempengaruhi makanan yang diinginkannya. Sebagai contoh, nasi untuk orang-orang
Asia dan Orientalis, pasta untuk orang-orang Italia, curry (kari) untuk
orang-orang India merupakan makanan pokok, selain makana-makanan lain yang
mulai ditinggalkan. Makanan laut banyak disukai oleh masyarakat sepanjang
pesisir Amerika Utara. Sedangkan penduduk Amerika bagian Selatan lebih menyukai
makanan goreng-gorengan.
- Agama/Kepercayaan
Agama /
kepercayaan juga mempengaruhi jenis makanan yang dikonsumsi. Sebagai contoh,
agama Islam dan Yahudi Orthodoks mengharamkan daging babi. Agama Roma Katolik
melarang makan daging setiap hari, dan beberapa aliran agama (Protestan) melarang
pemeluknya mengkonsumsi teh, kopi atau alkohol.
- Status sosial ekonomi
Pilihan
seseorang terhadap jenis dan kualitas makanan turut dipengaruhi oleh status
sosial dan ekonomi, salah sataunya pekerjaan. Pekerjaan disini memang tidak
secara langsung mempengaruhi status gizi, tetapi pekerjaan ini dihubungkan
dengan pendapatan dalam keluarga yang pada akhirnya akan mempengaruhi perubahan
gaya hidup, dalam hal ini terutama perubahan pada komsumsi yang menentukan
status gizi anak.
Sebagai contoh: orang kelas menegah ke bawah atau orang miskin
di desa tidak sanggup membeli makanan jadi, daging, buah dan sayuran yang
mahal. Pendapatan akan membatasi seseorang untuk mengkonsumsi makanan yang
mahal harganya. Kelompok sosial juga berpengaruh terhadap kebiasaan makan,
misalnya kerang dan siput disukai oleh beberapa kelompok masyarakat, sedangkan
kelompok masyarakat yang lain lebih menyukai hamburger dan pizza.
· Pendidikan
Pendidikan dapat mempengaruhi
kemampuan menyerap pengetahuan gizi yang diperoleh, tetapi perlu diikuti oleh
kemauan untuk menerapkan pengetahuan yang diperolehnya dalam rangka peningkatan
status gizi. Sehingga pola makan dan status gizi disini ditentukan juga oleh
kemampuan seseorang untuk menerapkan pengetahuan gizi ke dalam pemilihan pangan
dan pengembangan cara pemanfaatan pangan yang sesuai.
- Personal preference
Hal-hal yang
disukai dan tidak disukai sangat berpengaruh terhadap kebiasaan makan
seseorang. Orang seringkali memulai kebiasaan makannya sejak dari masa
kanak-kanak hingga dewasa. Misalnya, ayah tidak suka makan kai, begitu pula
dengan anak laki-lakinya. Ibu tidak suka makanan kerang, begitu pula anak
perempuannya. Perasaan suka dan tidak suka seseorang terhadap makanan
tergantung asosiasinya terhadap makanan tersebut. Anak-anak yang suka mengunjungi
kakek dan neneknya akan ikut menyukai acar karena mereka sering dihidangkan
acar. Lain lagi dengan anak yang suka dimarahi bibinya, akan tumbuh perasaan
tidak suka pada daging ayam yang dimasak bibinya.
- Rasa lapar, nafsu makan, dan rasa kenyang
Rasa lapar
umumnya merupakan sensasi yang kurang menyenangkan karena berhubungan dengan
kekurangan makanan. Sebaliknya, nafsu makan merupakan sensasi yang menyenangkan
berupa keinginan seseorang untuk makan. Sedangkan rasa kenyang merupakan
perasaan puas karena telah memenuhi keinginannya untuk makan. Pusat pengaturan
dan pengontrolan mekanisme lapar, nafsu makan dan rasa kenyang dilakukan oleh
sistem saraf pusat, yaitu hipotalamus.
- Kesehatan
Kesehatan
seseorang berpengaruh besar terhadap kebiasaan makan. Sariawan atau gigi yang
sakit seringkali membuat individu memilih makanan yang lembut. Tidak jarang
orang yang kesulitan menelan, memilih menahan lapar dari pada makan.
E. Cara
Mengatasi Pola Makan Anak Yang Kurang Baik
Tumbuh
kembang anak yang optimal akan tercapai bila anak mendapatkan makanan yang
tepat. Nutrisi dibutuhkan sebagai sumber tenaga, untuk menjaga metabolisme
tubuh, serta mengganti sel-sel yang rusak.
Walaupun demikian memberikan nutrisi
kepada anak bukan tanpa kendala, mulai dari anak yang hanya suka makanan
tertentu, ngemut makanan, bahkan sampai anak yang sama sekali menolak makan.
Banyak faktor yang menyebabkan
kesulitan makan pada anak. Pertama, faktor organik seperti penyakit saluran
cerna, penyakit infeksi atau bukan infeksi. Kedua, faktor psikologis yaitu
paksaan makan, proses makan yang tidak menyenangkan, hubungan emosional ibu dan
anak. Ketiga, faktor nutrisi. Hal inilah yang dapat menyebabkan pola makan anak
menjadi kurang baik.
Berikut beberapa cara untuk membentuk pola makan pada anak:
Peran Ibu untuk menanamkan kebiasaan pola makan sehat pada
anak di usia dini sangatlah penting. Berikut adalah tips untuk membentuk pola
makan sehat pada anak :
- Peranan Ibu untuk menentukan “Apa yang akan dimakan” anak sangat penting. Tingkatkan pengetahuan tentang kebutuhan gizi balita, jenis, makanan, susunan menu yang kreatif serta ciptakan suasana yang menyenangkan di saat makan.
- Jangan langsung pasrah atau menyerah saat disajikan makanan, anak berkata, “aku tidak menyukainya”. Penelitian membuktikan bahwa untuk menawari anak makanan baru, diperlukan 10 kesempatan pada saat yang berbeda dan baru berhasil. Moto “Coba dan Coba lagi” harus selalu diterapkan.
- Perkenalkan rasa baru kepada anak secara rutin. Mulai dari dalam kandungan dengan mengkonsumsi makanan ibu hamil, ASI dan makanan padat
- Jadilah teladan, panutan, dan idola yang baik bagi Si Kecil. Sajikan dan makanlah berbagai macam makanan. Biarkan anak melihat ibu dan anggota keluarga lain menikmati makanan. Dudukanlah Si Kecil di samping Anda dan biarkan dia bereaksi.
- Perkuat sikap positif makan anak dengan cara memberikan komentar positif setiap kali anak Anda mengkonsumsi makanan yang sehat dan mencoba makan dengan benar.
- Manfaatkan selera makan Si Kecil. Kembangkan selera makannya dan berikan makanan sesuai waktu yang dia inginkan dan tentu saja berikan pada saat Si Kecil lapar.
- Lingkungan dan suasana makan harus tenang dan bebas emosi.
- Jangan melarang dan memaksakan makanan tertentu karena sikap seperti itu akan berdampak negatif terhadap pola makan anak.
- Jangan terlalu dan selalu menekankan masalah makanan.
- Izinkan Si Kecil untuk sekali-kali mengkonsumsi minuman dan makanan yang disukainya, dengan catatan: setelah semua makanan sehat dan baik dikonsumsinya.
- Ubahlah letak penyimpanan makanan.
- Makanan sehat disimpan di tempat yang mudah terlihat dan dijangkau.
- Simpan makanan kudapan ditempat yang tersembunyi sehingga Ibu bisa memantau jenis dan jumlah yang dimakan oleh anak.
- Tetap santai, tenang dan konsisten dan jangan menyerah pada tuntutan anak dan emosi mereka.
- Tumbuhkan rasa bangga dan ucapkan selamat pada diri sendiri karena sudah berhasil memerankan tugas dengan baik untuk membentuk sumber daya manusia yang berkualitas dan cerdas, kunci keberhasilan di masa depan.
Untuk memberikan asupan nutrisi yang
bergizi dan seimbang bagi buah hati tercinta, sebaiknya mulai sekarang orang
tua melakukan perencanaan makan bagi anak.
- Atur jumlah kalori yang dibutuhkan anak, disesuaikan dengan berat badan anak.
- Pengaturan jadwal makan yang benar, yaitu 3 kali makanan utama dan 3 kali cemilan (makan pagi, cemilan, makan siang, cemilan, makan malam, cemilan). Jangan pernah melewatkan waktu makan, dan untuk anak penting membiasakan makan pagi, selain sebagai persiapan asupan energi untuk beraktifitas, juga dapat mencegah anak jajan makanan yang kurang sehat (tinggi kalori, lemak, gula dan tinggi garam).
- Komposisi jenis makanan. Untuk memenuhi asupan gizi seimbang dan tepat, berikan anak makanan yang mengandung karbohidrat kompleks, protein, lemak, vitamin dan mineral.
Karbohidrat kompleks terdiri dari
beras, gandum, terigu, buah-buahan dan sayuran. Untuk protein, jangan lupa
berikan susu pada anak Anda, karena susu merupakan salah satu sumber protein
yang baik. Sumber protein hewani yang lain juga perlu dikenalkan secara
bertahap.
Lemak sangat baik untuk anak,
kenalkan anak dengan jenis lemak baik (asam lemak omega 3, omega 6, dan omega
9). Hindari lemak jenuh, dengan cara merubah cara memasak dari menggoreng
menjadi mengukus dan merebus.
Tips mengatasi
kesulitan makan pada anak :
1. Coba
sajikan makanan dalam porsi kecil.
Ingat, lambung si kecil belum mampu menampung makanan
terlalu banyak, jadi berikan ia makanan sedikit demi sedikit.
2. Variasi
makanan.
Cobalah buat beberapa pilihan menu makanan, lalu biarkan
buah hati Anda memilih makanan yang ia sukai. Biasanya anak lebih suka dengan
makanan pilihannya.
3. Sajikan
dengan menarik
Setelah menyajikan banyak pilihan, sajikan dengan tampilan
menarik. Misalnya, mencetak nasi goreng dalam cetakan teddy bear atau bebek
kecil.
4. Jadikan
saat makan menyenangkan
Hindari mengancam, menghukum, atau menakut-nakuti anak agar
ia makan lebih banyak. Ini akan membuatnya merasa bahwa saat makan merupakan
saat yang tidak menyenangkan. Dan bukan tak mungkin menimbulkan trauma
psikologis baginya.
5. Makan
teratur
Jadwalkan waktu makan dengan teratur, agar si kecil terbiasa
dengan waktu makannya. Sama halnya dengan waktu tidur, mandi dan sebagainya.
6. Beri
cemilan sehat
Setelah bisa berjalan, si kecil gemar bereksplorasi dengan
lingkungannya. Apalagi ketika memasuki usia 2 tahun, aktivitasnya semakin
banyak saja. Ini mungkin membuatnya sulit untuk duduk manis dan makan dengan
tenang. Untuk menyiasatinya, berikan ia cemilan sehat dalam porsi kecil namun
beragam. Misalnya saja bola-bola kentang isi wortel dan daging cincang, sus
mini isi fla coklat, donat tabor keju, dan sebagainya.
7. Hindarkan
gaya memaksa dan mengancam dalam membujuk anak. Selama waktu makan, minimalkan
gangguan, misalnya matikan televisi dan jauhkan buku atau mainan dari meja
makan.
8. Libatkanlah
anak anda untuk menyiapkan makanan.
Misalnya dengan meminta pertolongannya untuk mengambilkan
buah atau sayur di swalayan maupun membantu menyiapkan meja makan. Selain itu,
anak anda memerlukan contoh dari orang tuanya. Bila anda mengkonsumsi makanan
sehat, maka anak akan mencontoh pola makan anda sebagai orang tua.
9. Hindari
memberi iming-iming makanan penutup sebagai hadiah.
Hal ini dapat menyiratkan bahwa makanan penutup merupakan
makanan yang paling enak dan baik untuk anak. Selain itu, dapat meningkatkan
keinginan mengkonsumsi makanan manis bagi anak. Anda dapat memberikan makanan
penutup selama 2 hari dalam seminggu, sedangkan pada pekan berikutnya tidak
anda berikan. Buah, yogurt atau makanan sehat lain dapat anda ganti sebagai
makanan penutup.
10. Batasi pemberian minuman di
sela-sela waktu makan.
Minuman rendah lemak maupun jus buah segar memang penting
untuk anak, namun bila ananda terlalu banyak minum, tidak akan ada tempat yang
cukup untuk makanan maupun kudapan sehat yang bisa masuk ke perut anak.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pola makan sehat
adalah suatu cara atau usaha dalam pengaturan jumlah dan jenis makanan dengan
maksud tertentu seperti mempertahankan kesehatan, status nutrisi, mencegah atau
membantu kesembuhan penyakit.
Pedoman
pola makan sehat untuk masyarakat secara umum yang sering digunakan adalah pedoman
Empat Sehat Lima Sempurna, Makanan Triguna, dan pedoman yang paling akhir
diperkenalkan adalah 13 Pesan dasar Gizi Seimbang. Pengertian makanan triguna
adalah bahwa makanan atau diet sehari-hari harus mengandung: 1. karbohidrat dan
lemak sebagai zat tenaga. 2. protein sebagai zat pembangun. 3. vitamin dan
mineral sebagai zat pengatur.
Kebutuhan
nutrisi anak berbeda tiap tahap perkembangannya. Hal ini disesuaikan karena
pada tahap pertumbuhan dan perkembangan anak membutuhkan nutrisi yang berbeda
agar kebutuhan nutrisinya terpenuhi.
Beberapa
faktor yang dapat mempengaruhi pola makan seseorang, antara lain faktor budaya,
agama/kepercayaan, status sosial ekonomi, personal preference, rasa lapar,
nafsu makan, rasa kenyang, dan kesehatan.
Banyak faktor yang menyebabkan
kesulitan makan pada anak. Pertama, faktor organik seperti penyakit saluran
cerna, penyakit infeksi atau bukan infeksi. Kedua, faktor psikologis yaitu
paksaan makan, proses makan yang tidak menyenangkan, hubungan emosional ibu dan
anak. Ketiga, faktor nutrisi. Hal inilah yang dapat menyebabkan pola makan anak
menjadi kurang baik.
B. Saran
Dalam penyusunan
Makalah ini penyusun menyadari masih banyak kekurangan dan kesalahan, oleh
karena itu penyusun mengharapkan kritik dan saran bagi para pembaca demi
penyempurnaan penyusunan Makalah selanjutnya.
Kepada para
pembaca, perbanyaklah dan perluaslah pengetahuan dan wawasan kita dengan rajin
membaca. Jangan pernah merasa puas dengan ilmu yang sudah kita miliki karena
ilmu pengetahuan semakin hari semakin meningkat seiring dengan perkembangan
zaman.
DAFTAR PUSTAKA
Hassan,
Rusepno. 1985. Ilmu Kesehatan Anak (Jilid 1). Jakarta : Bagian Ilmu
Kesehatan Anak (FKUI).
Hendrotomo dan
Muhardi. 2006. Pemeberian Nutrisi Parenteral pada Penderita Gangguan
Pencernaan (http//.www. google. Com). Jakarta : FK-UI
Mary E. Beck..
2000. Ilmu Gizi dan Diet (Nutrition and Dietetics for nurses).
Yogyakarta : Yayasan Essentia Medica
Markum AH,
Monintja HE, Boetjang RF. Prematuritas dan retardasi pertumbuhan (Dalam:
penyunting. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak Jilid 1). Jakarta :BIKA FKUI
Soetjiningsih.
2002. Tumbuh Kembang Anak dan Remaja (Edisi Pertama). Jakarta: Sagung
Seto
Suhardjo.
1992. Pemberian Makanan Pada Bayi dan Anak. Yogyakarta : Kanisius
Supartini, Yupi.
2004. Konsep Dasar Keperawatan Anak (Editor : Monica Ester ). Jakarta
: EGC
Thompson’s.
2001. Pediatric Nursing (Edisi 8). Printed in the United States of
America : W. B. Saunders Company
Tidak ada komentar:
Posting Komentar